Cari Blog Ini

Rabu, 25 Agustus 2010

MAU BELI CINTA..?

Rabu, 25 Agustus 2010 0

"Coba sejenak beristirahatlah..
Dunia ini tersenyum saat kau tertidur..
Dan menangis saat kau terbangun..
maka tertidurlah..seperti tertidurnya Tuhan mereka hari ini..."

"Tak ada sebuah cinta pun kemarin
tdak juga hari ini..begitu juga dengan esok
Karena, telah lama hati ini berhenti membuat cinta..
Dan, telah lama aku tak sanggup membelinya.."

PROSES YANG MEMBUSUK


Semua itu butuh proses, kawan. Maka, tak salah orang-orang sukses itu adalah mereka yang menuhankan proses. Bagi mereka tak ada hasil tanpa adanya proses. Hasil baik adalah konsekuensi dari sebuah proses begitu pula hasil buruk adalah ganjaran dari sebuah proses. Walaupun benar, proses yang baik belum tentu menemukan akhir yang baik di ujung cerita, begitu pula sebaliknya.
Kawan, janganlah merasa rugi untuk berproses, justru semestinyalah kita merasa rugi ketika tak ada proses yang baik dalam suatu pencapaian. Disadari atau tidak, kita memang tidak dapat menghindar dari proses, cara-cara instan sekali pun yang diidentikan dengan ketidak sanggupan sesuatu menjalani proses yang semestinya, pada dasarnya telah berproses juga.
Proses merupakan salah satu nilai dasar yang membangun kehidupan, tapi alangkah sedihnya konsepsi proses telah begitu sering dilacurkan bersama dengan konsepsi-konsepsi dasar lain dalam kehidupan, seperti keadilan, kebebasan, dan kejujuran.
Proses telah menjadi tameng dari suatu ketidakmampuan. Kata proses telah memberi Mereka rasa aman saat ditagih atas janji-janji mereka tempo hari. Cukup dengan kata proses mereka telah merasa berhasil dalam suatu pengabdian dan kita percaya. Sungguh suatu penghinaan terhadap nilai luhur dalam kehidupan.
Tentunya kita semua ingin menjadi bangsa yang maju melalui serangkaian proses, tp bukan berarti kita bertahun-tahun terus dipecundangi elit yang meangatasnamakan proses demi prestise. Tanpa sadar, kita telah diberi makan proses oleh mereka dan dengan naifnya kita telan mentah-mentah proses yang telah membusuk itu.
Proses tentu jangan sampai terhenti, dan kita jangan menjadi bangsa yang mengingkari kesakralan proses. Indonesia harus tetap dan terus berproses, salah satunya adalah berproses dalam politik bukan berpolitik dalam proses. Enyahkan jargon-jargon tentang proses yang meninabobokan rakyat, mengamankan elit secara politis, dan mengingkari substansi dari makna proses itu sendiri. Proses substansinya adalah progres, namun yang terjadi proses kita hari ini lebih banyak menuai protes. ada apa hai kawan-kawan mahasiswa, kalian yang katanya kaum intelektual harus menjelaskannya pada rakyat..!!

DIA TERUS BERNYAYI


Hari ini aku bangun, seperti yang sudah-sudah aku baru terbangun setelah mentari memanggang kamarku. diantara panas, terik, karena keperkasaan cahaya mentari yang berhasil mempecundangi gorden kamarku, aku tinggalkan kasur yang porak-poranda karena pertempuranku semalam, pertempuran melawan mimpi buruk.

Setengah sadar, sambil terduduk aku berpikir, mau apa aku hari ini? Apa yang harus aku kerjakan? Rasa-rasanya rasa malas erat mendakap seluruh lekuk tubuhku, persendianku seperti kaku enggan kugerakan kemana pun. Aku tahu hari ini aku harus ke kampus, tapi..Tuhan.., beratnya hatiku meninggalkan kamar, "mending aku bermesraan dengan facebook, si makhluk bermuka dua," pikirku..
Masih duduk dan melamun, sambil menerawang mencari-cari semangat yang sedang kabur, sayup-sayup kudengar nyayian dari luar kamarku. Lagu ini aku ingat, lagu legendaris. Aku suka sekali dengan lagu itu, apalagi kalau dibawakan secara akustik, membuatku merinding. Lamunanku yang tidak terkonsep itu akhirnya buyar, aku fokus mendengar nyanyian itu, merdu sekali menyatu dengan ritme gitar, membentuk harmoni yang menimbulkan gemuruh di hatiku. Siapa gerangan yang menyayikannya? Suaranya tidak begitu asing, menyayikan untuku,kah?

Bergegas aku menuju jendela, paku2 imajiner yang tadi melumpuhkan persendiaanku luluh lantak, aku sibak tirai pecundang itu, aku ingin tau siapa yang menyayikannya. Sejurus kemudian aku buka jendela, sinar mentari yang masih terik itu beradu dengan mataku yang aku picingkan. Aku pun celingukan memanjangkan leherku keluar jendela..

“Hemm..mana orang itu, kok tak nampak.?” Aku terheran karena tak seorang pun di sana.
Orang itu terus melagu, meski tak tampak, suaranya aku kenal, suara seorang pria yang tak asing bagiku. Dari artikulasi dan vibranya sepertinya dia menghayati betul lagu itu. Tebakanku, pria itu sama denganku, menyukai lagu itu dan sedang kehilangan semangat karena sesuatu hal. Dia tak nampak tapi suaranya makin jelas, semakin dekat. Disitu aku masih seperti orang bego, celingukan mencari sesuatu yang tak nampak tapi terasa, aku yakin ia ada.

Dua menit sudah aku bertahan dibibir jendela kamarku, biasanya dari lantai 3 bisa kulihat siapapun yang beraktivitas dibawah. Aku pun tahu persis anak-anak sini biasanya memainkan gitar di bawah pohon sukun itu. Aku coba mengingat-ingat, siapa anak bawah yang punya tipe suara seperti itu? Aku ingin menyampaikan rasa terima kasihku, ia telah telah menghibur hatiku meski ia tak menyadari. Aku appreciate, lagu itu mewakili guratan hatiku.

“Sudahlah, dia bernyayi di dalam kamarnya kali,” pikirku. Aku tutup jendela, kututup kembali tirai, hari ini sinar mentari menjadi musuhku, seperti halnya aku sedang bermusuhan dengan keadaan. Lagu itu masih berlanjut, mulai masuk ke bait terakhir. Aku masih menikmatinya, sambil kurebahkan tubuhku diatas kasur. Seiring aku rebahkan tubuh ini ternyata lagu itu semakin jelas! Suaranya aku hapal, semakin hapal. Aku tahu suara siapa itu, bukan anak bawah, bukan pula pengamen jalanan. Aku tahu suara siapa itu…dan aku tahu nyayian itu bukan berasal dari luar dinding kamarku tidak juga di dalam kamarku. Lirik demi lirik penutup itu semakin jelas terdengar, bukan ditelingaku tetapi di dadaku, di hatiku. ”Terlalu manis untuk dilupakan kenangan yang indah bersamamu tinggallah mimpi...” begitu katanya.. aku pun tertidur tapi bukan mati sayang..

(jatinangor, Agustus 2009)

*Teman silahkan mengomentari, menilai, memberi kritik, saran, atau hujatan sekali pun..hehe, sekedar ungkapan ide dalam media tulisan..thx sebelumnya..

BUKAN UNGKAPAN HATI


Berangkat dengan senyuman, tak sedikit pun terlintas di benak ini aku akan pulang dengan kerutan kecewa di kanvas wajah. Segala sesuatu yang telah direncanakan dengan sematang-matangnya, pada akhirnya berantakan, berserakan tak beraturan..berbagai serpihannya pun lenyap entah kemana. Apa mau dikata, kesenjangan antara harapan dan kenyataan terlalu jauh. Harapan dan kenyataan tak dapat disatukan lagi, ibarat dua pulau yang dipisahkan selat yang tengah diamuk badai.
Padahal tak kurang dari time schedule, daftar peralatan, dan daftar narasumber beserta teknis untuk menemui merea telah aku buat d atas kertas, rapih dan teratur. Belum lagi, materi pertanyaan telah diracik sedemikian rupa di dalam memory otak, dan siap dimuntahkan bak peluru yang terhambur dari magasin. Namun, tangan yang tak terlihat itu telah memindahkan segalanya, merubah posis letak ornamen yang telah tersusun dalam rancangan rencana-rencanaku.
Aku pikir kita bebas, tapi ternyata kita ditentukan oleh sesuatu yang tak terlihat. Orang menyebutnya Tuhan, rusaknya rencanaku karena nasibku, yaa..Nasib lah yang menunjukan tuhan itu ada....

AKU TIDAK INGIN MENULIS 2


saat ingin menulis aku selalau menulis walaupun tak tahu harus menulis apa. apa yang harus ditulis itu urusan ke 17 sekian.seperti sekarang, bingung apa yang harus di tulis? aliran inspirasi mandek, telah lama terjadi pendangkalan di saluran nalar.
1 menit, 2 menit, 3 menit,..10 menit telah berlalu, masih belum kutemui apa yang harus di tuangkan di kertas putih ini. Huh..baik lah aku menyarah, sepertinya ide itu tak datang malam ini. lagi pula seharian aku suntuk, otak ini mungkin butuh revolusi....
Hah..Revolusi??bukankah revolusi selalu berdarah? berarti otak ini butuh darah...?!
 
RIZKI dialogue.. ◄Design by Pocket, BlogBulk Blogger Templates ►