Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Agustus 2010

SEMOGA BUKAN AKU

Rabu, 25 Agustus 2010 0

Seorang kawan memangil. ia berteriak tentang masalahnya. lagi2 musalah wanita? kenapa mengenai wanita? mengapa harus wanita? kenapa bukan politik? kenapa bukan kuliah yang jelas2lebih penting? kenapa selalu wanita?
apakah hanya wanita yang berada di benak lelaki? kalo memang seperti itu,lelaki yang mana yg terus dan selalu dihegemoni wanita? yang jelas bukan aku..semoga...

TERTAWA TAPI TAK ADA


Jam malam tertawa melihat aku tampak begitu bodoh didepan monitor.

aku ingin melakukan...

Mencoba merangkai kata tapi tak ada.
Mencoba tidur tapi tak ada.
Mencoba pergi keluar tapi tak ada.
Mencoba tertawa tapi tak ada.
Memcoba menangis tapi tak ada.
Mencoba diam pun tapi tak ada...

Kucoba melakukan, dan...
Samar-samar tampak ide2 itu berserakan menjadi sampah di lantai, mengotori kamarku...

MALAM INI HENING


malam ini hening.
namun suasan hening tidak lantas membuatku menutup mata..
mungkin, karena aku tak terbiasa terlelap dalam keheningan

aku menyukai hening.
Pikirku, terlalu berharga melewatkan keheningan yang sempurna ini..
Keheningan menjadi suatu kemewahan bagiku..mahal dan sulit di dapat...

MAU BELI CINTA..?


"Coba sejenak beristirahatlah..
Dunia ini tersenyum saat kau tertidur..
Dan menangis saat kau terbangun..
maka tertidurlah..seperti tertidurnya Tuhan mereka hari ini..."

"Tak ada sebuah cinta pun kemarin
tdak juga hari ini..begitu juga dengan esok
Karena, telah lama hati ini berhenti membuat cinta..
Dan, telah lama aku tak sanggup membelinya.."

DIA TERUS BERNYAYI


Hari ini aku bangun, seperti yang sudah-sudah aku baru terbangun setelah mentari memanggang kamarku. diantara panas, terik, karena keperkasaan cahaya mentari yang berhasil mempecundangi gorden kamarku, aku tinggalkan kasur yang porak-poranda karena pertempuranku semalam, pertempuran melawan mimpi buruk.

Setengah sadar, sambil terduduk aku berpikir, mau apa aku hari ini? Apa yang harus aku kerjakan? Rasa-rasanya rasa malas erat mendakap seluruh lekuk tubuhku, persendianku seperti kaku enggan kugerakan kemana pun. Aku tahu hari ini aku harus ke kampus, tapi..Tuhan.., beratnya hatiku meninggalkan kamar, "mending aku bermesraan dengan facebook, si makhluk bermuka dua," pikirku..
Masih duduk dan melamun, sambil menerawang mencari-cari semangat yang sedang kabur, sayup-sayup kudengar nyayian dari luar kamarku. Lagu ini aku ingat, lagu legendaris. Aku suka sekali dengan lagu itu, apalagi kalau dibawakan secara akustik, membuatku merinding. Lamunanku yang tidak terkonsep itu akhirnya buyar, aku fokus mendengar nyanyian itu, merdu sekali menyatu dengan ritme gitar, membentuk harmoni yang menimbulkan gemuruh di hatiku. Siapa gerangan yang menyayikannya? Suaranya tidak begitu asing, menyayikan untuku,kah?

Bergegas aku menuju jendela, paku2 imajiner yang tadi melumpuhkan persendiaanku luluh lantak, aku sibak tirai pecundang itu, aku ingin tau siapa yang menyayikannya. Sejurus kemudian aku buka jendela, sinar mentari yang masih terik itu beradu dengan mataku yang aku picingkan. Aku pun celingukan memanjangkan leherku keluar jendela..

“Hemm..mana orang itu, kok tak nampak.?” Aku terheran karena tak seorang pun di sana.
Orang itu terus melagu, meski tak tampak, suaranya aku kenal, suara seorang pria yang tak asing bagiku. Dari artikulasi dan vibranya sepertinya dia menghayati betul lagu itu. Tebakanku, pria itu sama denganku, menyukai lagu itu dan sedang kehilangan semangat karena sesuatu hal. Dia tak nampak tapi suaranya makin jelas, semakin dekat. Disitu aku masih seperti orang bego, celingukan mencari sesuatu yang tak nampak tapi terasa, aku yakin ia ada.

Dua menit sudah aku bertahan dibibir jendela kamarku, biasanya dari lantai 3 bisa kulihat siapapun yang beraktivitas dibawah. Aku pun tahu persis anak-anak sini biasanya memainkan gitar di bawah pohon sukun itu. Aku coba mengingat-ingat, siapa anak bawah yang punya tipe suara seperti itu? Aku ingin menyampaikan rasa terima kasihku, ia telah telah menghibur hatiku meski ia tak menyadari. Aku appreciate, lagu itu mewakili guratan hatiku.

“Sudahlah, dia bernyayi di dalam kamarnya kali,” pikirku. Aku tutup jendela, kututup kembali tirai, hari ini sinar mentari menjadi musuhku, seperti halnya aku sedang bermusuhan dengan keadaan. Lagu itu masih berlanjut, mulai masuk ke bait terakhir. Aku masih menikmatinya, sambil kurebahkan tubuhku diatas kasur. Seiring aku rebahkan tubuh ini ternyata lagu itu semakin jelas! Suaranya aku hapal, semakin hapal. Aku tahu suara siapa itu, bukan anak bawah, bukan pula pengamen jalanan. Aku tahu suara siapa itu…dan aku tahu nyayian itu bukan berasal dari luar dinding kamarku tidak juga di dalam kamarku. Lirik demi lirik penutup itu semakin jelas terdengar, bukan ditelingaku tetapi di dadaku, di hatiku. ”Terlalu manis untuk dilupakan kenangan yang indah bersamamu tinggallah mimpi...” begitu katanya.. aku pun tertidur tapi bukan mati sayang..

(jatinangor, Agustus 2009)

*Teman silahkan mengomentari, menilai, memberi kritik, saran, atau hujatan sekali pun..hehe, sekedar ungkapan ide dalam media tulisan..thx sebelumnya..

PETAK UMPET


Terlalu lama bermain-main lelah juga ya. Bermain petak umpet misalnya, kalau ketahua tempat persembunyian kita, pasti kita rasa dongkol. Sialnya, apalagi kalau jadi yang pertama tertangkap, pada game berikutnya kita harus ikhlas jaga kandang. Konsekuensinya yang jaga kandang harus terima disebut kucing, ia memiliki tugas mencari teman-temannya yang bersembunyi, panggil saja pihak yang bersembunyi itu dengan sebutan "para tikus," walaupun sebetulnya istilah ini tidak ada dalam kamus per-petakumpet-an, istilah ini muncul lebih karena sisi sakit hati si kucing.

Singkat cerita, setelah mendapat predikat kucing, ia harus bekerjakeras mencari tikus-tikus yang bersembunyi. Tak jarang si kucing menjadi bulan-bulanan dari intrik licik para tikus. Sambil memantau di tempat persembunyiaannya yang gelap, tikus-tikus licik itu acap kali cekikikan dalam hati, mentertawakan kucing yang tampak bodoh dalam pencariannya, namun sebetulnya mereka tertawa dalam ketegangan tingkat tinggi.

Sudah menjadi tugas bagi si kucing yang malang untuk terus mencari. Ketidaktahuannya membuat pekerjaan yang ia lakoni terasa berat. Pastinya sangat-sangat tidak mengenakan, ditertawakan dalam kegelapan oleh sesuatu yang tidak diketahui batang hidungnya. Hemm..mungkin seperti itulah kira-kira contoh konkrit dari yang namanya “makan ati.” Si kucing yang makan ati, haha..sungguh lucu!

“Makan ati,” itu menu menjijikan yang tengah disantap oleh sang kucing, seseorang yg sedang dihukum dalam sebuah permainan petak umpet, nah sekarang bagaimana menu yang menjadi makan malam bagi pihak yg bersembunyi. Karena berperan sebagai pihak yang tidak sedang menjalanin hukuman, tentunya kondisinya akan lebih baik, dong..?? Eiiit..tapi tunggu dulu, tulisan masih panjang jangan dulu berkesimpulan, kawan..

Terus-terusan bersembunyi tanpa terdeteksi bisa jadi membuat kita boring bermain, tak jarang akhirnmya kita sebagai tikus meragukan profesionalitas dan kapabilitas si kucing pencari. “Ni kucing buta apa bego, masa gw ngumpet sebegini deket kaga ketahuan,” begitu kira-kira redaksional dari umpatan sang tikus yang sedang bermain tapi serasa tidak tertantang.

Tapi jangan salah, walaupun membosankan, menu yang kita santap saat bersembunyi paling tidak lebih menyehatkan dari pada “makan ati.” Secara reflek tubuh dan saraf ini menuntut kita total melakukan yg terbaik, memberdayakan kecepatan berpikir dan otot-otot seoptimal mungkin, demi bertahan selama mungkin. Ibaratnya, saat dikejar anjing, otak memaksa kita mengeluarkan energi yang lebih besar daripada si anjing,kan? Kalau tidak begitu, ya siap-siap aja tertinggal tato gigi anjing di betis atau paha kalian. Begitupun, saat tikus bersembunyi, walaupun cekikikan, sebetulnya ia sadar tengah mempertaruhkan nyawanya dari ancaman sang kucing yang sedang keroncongan. Maka tak heran, saat bersembunyi, tanpa komando pun kita dipaksa total, bergerilya dari satu tempat ke tempat yang lain.

Saya pernah mengalami hal itu, dan itu membuat adrenalin naik turun, huuuuh.. menghabiskan tenaga. Kenapa sebab? Tak ada jeda dalam posisi seperti itu, kawan! Saat kucing lengah, dalam hitungan detik, kita harus tanggap untuk bergerak, karena kalau diam dan hanya mengandalkan satu tempat saja, sang kucing pasti akan mengendus aroma bau badan tikus, dan dengan sigap meremove kita dari permainan. Mau tak mau tikus harus berlari, menerabas semak, masuk ke celah-celah dimana kucing tak sedikit pun berpikir si tikus yang licik itu nyaman disana.

Jika suatu waktu tempat persembunyian kita sudah terendus, tugas kita sebagai tikus hanya dua, yaitu tetap tenang dan biarkan semuanya gelap. Jangan ada suara kecuali detak jantungmu. Percayalah saat semakin dekat, kucing itu tidak akan bisa membedakan suara detak jantung itu adalah milikmu atau miliknya. Sebagai makhluk kecil tikus harus tenang dan licik agar bisa hidup. Namun tenang itu tak mudah, tenang butuh energi, saat di posisi itu kita akan tahu, energi yang dibutuhkan untuk sebuah ketenangan itu lebih besar daripada energi yang kita butuhkan untuk sebuah kemarahan.

Hal yang lumrah, ketika kita bersembunyi, jantung pasti berdegup kencang, degup karena lelah berlari dan degup karena takut melihat sang kucing lapar lalu lalang di depan batang hidung kita yang pesek, berelaborasi menjadi satu rasa bernama ketegangan tingkat tinggi. si kucing walaupun di intai tapi tetap bisa santai, jalan kaki memeriksa dari suatu tempat ke tempat lainnya.Sedangkan tikus, yg bersembunyi, harus selalu berlari dan cepat, itu sudah harga mati! “Haha..ternyata dikejar itu lebih melelahkan daripada mengejar.” Berarti benar, dalam realitasnya suka ada perempuan yg justru lebih stres dari pada cowok yang mengejar-ngejar dan ditolaknya berkali2, haha. Artinya, tidak ada alasan putus asa saat mengejar sesuatu, bukan? Asalkan konsisten mengejar, yang dikejar itu akan mengalami dua kemungkinan, sters atau jatuh kepelukan, cepat atau lambat.

Dalam persembunyian petak umpet, segigih apapun kita bersembunyi cepat atau lambat permainan akan berganti set. Sesuatu yg kita kejar akan lebih dulu menepi pada tanggul kelelahan, itu lumrah, untuk bisa lolos si korban mengkonsumsi energi lebih banyak dari pada sesuatu yg mengejarnya. Terbersit, mungkin itu sebabnya, kenapa buronan kakap Dr. Azhari dan Nurdin M. Top akhirnya tewas juga. “Haha..semuanya hanya masalah waktu, benar kata dosenku waktu adalah alat uji yang tak akan pernah bohong,”

Finnaly, Sudah lama aku bersembunyi, berpindah-pindah pula, tetapi si kucing itu gak juga menemukanku, apa aku harus menyerahkan diri? Sory, sebagai atlit petak umpet aku harus professional, dong…



*sebuah tulisan fiksi (bukan pengalaman pribadi!) yg terinspirasi oleh permainan masa kecil kita dulu yang saat ini kalah bersaing dengan playstation. mungkin saat ini petak umpet sudah bukan lagi permainan, tp sebuah cerita...

terimakasih kalau sudi mengomentari:)

BAJINGAN


Aku sudah bangun. Satu jam yang lalu kalau tidak salah. Aku kembali merasakan semilir angin sore yang lancang masuk dari jendela yang kubuka dari tadi, mendesir perlahan menyapu debu2 halus disekitarku, menari2 di kulitku, lalu bernyayi ditelingaku menyanyikan melodi lirih mengejekku, membuatku mengantuk kembali. Tapi, aku sudah bangun jadi rasa kantuk itu berhasil aku tangkis, dan terlempar deras kesudut kamar. Membentur dinding dan..baam.. mungkin mati seketika! Yeah dalam hati kuberteriak. Sungguh aku puas, berhasil membinasakan rasa kantuk yang teramat sangat BAJINGAN itu...

Sepertinya dia mati, kawan. Tapi aku sedih sekarang, jujur aku masih ingin kantuk itu, ingiiin.... sekarang dan selamanya. Oh..Tuhan, dia sudah tewas, satu hantaman saja berhasil membinasakannya! Ah..andai saja dia tidak pergi secepat itu, sehingga membuatku kembali terbangun, satu jam yang lalu kalau tidak salah. Kenapa dia terlalu lancang keluar dari mimpiku, menyusup kesela2 kelopakmata yang tengah tertutup rapat berjam-jam lamanya. aku benci dia pergi begitu saja, aku benci kantuk itu berhasil melarikan diri. dan kebencian itu mengalir sampai ke tanganku, alhasil kutangkis dia. aku ingin kantuk itu, .sekarang dan selamanya. karena kata uztad mati itu menyakitkan maka aku hanya ingin kantuk itu untuk menghindar.

"Ah..andai saja kau bisa d ajak kerjasama tadi sebelum aku bangun satu jam yang lalu kalau tidak salah. Aku menyesali, sungguh sial, kenapa kau pergi kantukku, kau tak tahu y aku merasa lebihnyaman dialam mimpi, bukan disini. ayo kembali segera rasa ngantuk..argh..lekas bangun..."

Huh..sudahlah, itu tak mungkin, kulihat disudut kamar rasa kantuk itu menggelepar, sekarat,dan mati. karena aku tangkis dengan kuat tadi, dia langsung tewas. "Lalu kenapa aku tangkis??" yayaya..aku sudah terlanjurmuak dengannya, pergi tanpa permisi saat bidadari mimpi tengah menari..baiklah selamat tinggal kantukku yang BAJINGAN, sekarang aku mau mencari jalan lain, moga uztad itu bohong....

Dalam diam Jatinangor, Mei 2010....

Selasa, 24 Agustus 2010

SI TOGAR

Selasa, 24 Agustus 2010 0

Kali ini si Togar bikin ulah lagi. satu-satu peserta diskusi diteriakinya dengan kata-kata kasar. "kalau kau gak ngerti politik tak guna lah kau ada di sini, pulang kampung saja sudah. bisa kau itu apa sih, cuma cengengesan saja bisa kau itu!" makian yg deras keluar dari goa mulutnya itu kontan membuat salah satu diatara peserta diskusi yang diundang hadir malam itu naik pitam. Dengan nada tinggi tak mau kalah ia pun mengacungkan tangan lengkap dengan lima jarinya, Rata Penuhseolah hendak menyetop laju kata2 yang terus mengalir bak kelelawar yang berhamburan keluar dari goa dikala senja. "sebantar pak..!" ujarnya. Tapi si Togar masih saja nyerocos. "sebentar kubilang!" ujar salah satu peserta diskusi itu lebih tegas. "Bagini saja lah,pak. saya pernah bertemu orang bodoh sebelumnya, tapi tak pernah bertemu orang sebodoh anda!" bentaknya tak mau kalah.
"Lho ya gak bisa dong, saya sarjana hukum, yang bodoh itu anda yang gak sarjana, ga makan bangku sekolahan," togar melemparkan kembali bola panas itu. Akhirnya peserta yang bernama Akbar itu hanya tertawa mendengar kata-kata togar, seolah sudah tidak kaget dengan reputasi togar sebagai politisi mulut besar, tukang buat onar, dan asal jeplak. "saudahlah takan selesai, kok jadi begini ya," ujar Akbar pada moderator. moderator yang dari tadi diamsaja itu,hanya tersenyum salah tingkah, entah kaget atau senang tak jelas sikapnya.
Jauh disana, di suatu rumah , sebuah keluarga kecil sedang menyaksikan diskusi itu dari layar televisi. Diantaranya, anak kelas 3 SD turut menyaksikan si kotak ajaib itu, disampingnya sang ayah tampak serius mengamati tiap dialog yang terungkap. melihat suasana gaduh, takayal anak itu bertanya "itu kenapa pah, bertengkar ya?" ayahnya yang terlalu serius tak menghiraukan pertanyaan anaknya. Merasa tak mendapat jawaban, tatapan anak itu kembali ditujukan ke layar.
Singkat cerita Diskusi berbulu debat kusir itu usai. Seperti biasa anak kelas tiga SD itu kembali ke ruang belajarnya, membuka buku, mengerjakan PR sambil ditemani bundanya.
saat sibuk mengerjakan PR matematikanya, tiba2 ia teringat diskusi di TV tadi, tanpa ragi ia bertanya pada bundanya yang dari tadi setia mengawal ia belajar. "Bunda, century itu apa sih? lalu, pansus itu apa? kok ade gak belajar itu d sekolah?"
Mendengar pertanyaan-pertanyaan itu spontan si ibu kaget, baginya istilah itu memang sering ia didengar akhir-akhir ini, tp jujur saja, ia tidak tahu apa substansi dari itu. Justru ia merasa, televisi pelit membagi substansi tentang itu, tak seperti memmbagi sensasi hoax dan kata-kata sarkastik.
"Sudah lah de, jangan bertunya dulu tentang itu, lebih baik kerjakan sudah PR mu, lalu lekas cucikaki minumsusu dan tidur ya," ujar Bundanya.
"ah bunda, kok bunda gak tau, berarti bunda gak makan bangku sekolah dong," kata si anak santai sambil terus berhitung...

REFORMASI


Diam diberanda saat senja, memeluk seikat cahaya terakhir. sambil teringat anaknya yang lama tak pulang, ia lemparkan tatapan sampai ke batas dunia. Menerawang disisa cahaya. "dimana kau nak, ini cahaya terakhir yang kujaga untuk menyambutmu. sebentar lagi gelap, aku harus kembali ke pembaringan," hatinya berdendang lirik yang sama dengan yg ia ucapkan kemarin.

Pak Tua itu kembali kerumah, kembali tak didapatinya si Gayus di tapal batas. Istrinya menyambut di muka pintu, tetap dengan senyuman, tidak semili pun gurat kekecewaan tersemat di pipinya, baginya tak apa selama ini bisa mengobati rindu suami tercinta pada si Gayus, putra semata wayang mereka.

Sang istri bukan tidak rindu jua. anak terkasih menghilang seperti tak tahu jalan pulang, ibu mana yang tak sedih. Namun, ia diam bukan tak ingin mencari, berbagai cara sudah dilakukan, bahkan sampai menanyai orang pintar. Sampai suatu waktu, ia membentur tebing yang memaksanya secar halus berkata "Sekarang sudah waktunya diakhiri, semua sudah berarkhir."

Tapi tidak bagi pak Tua, semua belum berakhir. Akan ia tunggu sejak sebelum cahaya hingga cahaya terakhir. Setiap harinya hanya berjalan ke ujung jalan, berharap si Gayus berhenti di bawah pohon mahoni itu, seperti beberapa tahun yang lalu. tapi ia selalu kembaki pulang tanpa menggandeng siapapun, seperti biasa istrinya menyambut di muka pintu, tetap dengan senyuman, tidak semili pun gurat kekecewaan tersemat di pipinya. Dia sudah menduga ini.

Malam begitu lembut. Tak seperti suara detik jam dinding yang terkesan arogan, bulan diluar sana merayap tanpa suara. Begitupun dirumah pasangan kesepian itu. tak sepatah katapun yang terucap selepas magrib tadi. Merela bukan tak saling mengenal tetapi sama-sama menikmati kesunyian yang sudah beberapa tahun mereka rasakan. "Bu, rumah kita tak sehangat dulu ya.." tiba-tiba suara tua itu menghentak sepi. "tak apa pak, ramai pun tak ada artinya kalau ibu tak bersama bapak disini," istri pak tua itu membalas, tak lupa senyuman ia sematkan untuk menghibur suaminya.

"Bu, kemana perginya anak kita, kok udah lama tak pulang, tak ingat kah kita masih menjadi orang tuanya?" Entah keberapa kalinya suaminya menanyakan pertanyaan itu, Ibu yang mulai keriput itu bergegas menghampiri, menggenggam lengan suaminya. mengusap dahi hingga punggungnya.

"mungkin dia sibuk pak. sudah2, kok bapak badannya anget, bapak minum obat lalu tidur ya pak. Besok kan kita harus ke Jakarta pak".

"ke jakarta, bu?" tanya suaminya sambil melihat fokus pada satu titik. "Iya pak, masa bapak lupa. besok kan tanggal 21 Mei," bisik istrinya hati-hati.

Pak tua yang ringkih itu tak beranjak, seperti sedang dililit rantai baja ia tetap terpaku. Tatapannya kosong. Seperti ada kesedihan mendalam jauh di lerung khayalnya, seraya itu ia bergumam dihatinya yang letih "andai dulu aku tidak menyuruh Gayus menjadi aktivis mungkin, sekarang ia masih disini..."

Sang istri mengerti airmata suaminya. Mungkin suamiku takan terlalu menyesal seandainya hari ini kondisi bangsa lebih baik..

Dalam lelah Jatinangor, Mei 2010

*Untuk mereka, Hari Reformasi harus disikapi dengan rasa syukur atau kesedihan?

Sabtu, 06 Maret 2010

KEMBALI KE TITIK NOL

Sabtu, 06 Maret 2010 0
Mill, Kembali ketitik nol. Hari tak pernah lupa berganti, begitu pun jam, menit, dan detik. Tidak ada yang diam yang diam adalah perubahan itu sendiri. Perubahan selalu diam, menjadi perubahan yang terus berubah. Begitupun skenario hidup, selalu dinamis, fluktuatif, dan inkonsisten. Ironis, manusia kok betah menjalani hidup dalam ketidak pastian alur. "Mengapa?" Mill bertanya pada deru napas.

"Heemm, Tuhan memang pandai mengatur ritme, saat seseorang terpuruk tuhan bangkitkan harapan dalam hatinya, alhasil orang tersebut urung menyayat nadinya dan angkat kaki dari hidup yang anjing ini. Padahal harapan bukan kenyataan, harapan hanya ilusi yang membuat kita memerlukan banyak ongkos untuk menebusnya. Yaa..ya..mungkin harapan dan kejutan yang membuat kita berjuang hidup, padahal kita tau kapanpun bisa saja kita mati. Tuhan memberi kita harapan dalam hidup yang membuat kita pergi berjuang mengejar harapan itu, padahal belum tentu kita meraihnya, tetapi disisi lain Tuhan menempatkan kematian sebagai kepastian," Mill menggerutu dalam hati..berharap Tuhan tak mendengar pergunjingan batinnya.

"Hah, sudahlah tak guna sok berfilsafat menggugat Tuhan dimalam buta, mungkin sudah nasibku jadi manusia," pikirnya. Pikiran Mill sejenak mengembara kebelakang, mengarungi belantara, gurun, samudra, dan peguningan hidup yang pernah dilintasinya.

"Aku sudah sampai di titik ini, segala pahit getir telah kuterima sebagai konsekuensi. Dan, hidup harus tetap berjalan," lagi Mill curhat pada dirinya sendiri. Didepan memang penuh ketidakpastian, kepahitan bisa saja terulang, tapi kepahitan yang membuat kita mengerti manisnya hidup. "Baiklah, saya akan jawab tantangan Tuhan bermain tekateki hidup, aku penasaran ada apa dengan hidupku didepan," Mill menceramahi dirinya. Mill sadar betul hanya satu cara untuk menyelesaikan tekateki itu, "tetap mengayuh pedal kehidupan, maka satu persatu tekateki itu akan terjawab."

Baiklah saat ini Mill berusaha lebih menikmati sisa hidupnya. Baginya menikmati hidup berarti menikmati setiap perubahan yang terjadi. Sejurus kemudia dia bangun dari pembaringannya, meraih pena dan buku mini yang menjadi kotak idenya. Tak lupa Mill menyalakan lampu meja yang juga bisa langsung di raih dari pembaringannya yang kusut.

Malam yang hening pun diisi oleh suara pena yang berselancar diatas kertas. "Lupakan hidup yang indah jika kau tidak bersetubuh dengan perubahan itu. Jika kau merenungi perubahan,dan malah diam menyesalinya, kau akan tertinggal, dilindas perubahan yang datang dari kiri, kanan, atas, bawah, depan, dan belakangmu. Air matamu tidak bisa menolong, jika kau memilih menangisi perubahan itu, tapi jika kau memilih tertawa, itu akan lebih menyelamatkanmu.."

Setelah menulis, Mill berbaring kembali. Ia menilis sebuah pesan pada Tuhan, "Terimakasih atas semua perubahan ini, hingga mengantarkanku pada titik nol, sebuah titik peralihan hasil revolusi hati. walau berdarah-darah tetapi tetap indah karena masih ada tanda tanya disana. tanda tanya itu yang membuatku tetap berdiri, walaupun belum tentu terpecahkan. Hidup ini indah dengan ketidakpastian dan aku siap untuk perubahan baru..."

"Heemm dan aku siap bermain tekateki denganmu Tuhan..." Bismillah.....

Jatinangor, Feb10

BUS YANG KUTUNGGU

Terlambat, bus sudah berjalan. Saatnya menunggu, semoga bus yang akan datang sama baiknya, atau malah lebih baik.

Di halte aku menunggu. Seharusnya aku tak perlu khawatir, karena aku menunggu di tempat yang benar. "pasti cepat lambat aku akan dapat bus baru, bus itu takan melewatkan halte ini, itu pasti," pikirku.

Tapi entah kenapa, dari tadi aku gelisah, khawatir, firasatku sepertinya tadi bus terakhir! klo benar begitu, aku akan akan jadi orang yang sangat menyesal. Saat bus itu lewat dan berhenti dihadapanku dan menaikan penumpang, aku malah diam, tak sedikitpun menghiraukannya. Aku malah asik memperhatikan jalanan, orang-orang yang lalu lalang. Bahkan aku ogah naik bus itu, jelek, kotor, dan dipadati penumpang. Namun, setelah bus butut itu berlalu, "OMG aku tak kebagian bus, kalau begini aku tak akan sampai tujuan?!"

Tak sabar, aku mondar-mandir seperti orang linglung di dalam kotak terbuka bertuliskan "H A L T E." tulisannya terang menggunakan huruf kapital, dibawahnya ada tulisan lagi bunyinya "Menunggu itu hiburan bagi yang tak punya tujuan," jelas pesan itu tak relevan bagiku, aku punya tujuan, oleh karena itu aku gelisah! "Tuhan.., kuberi tahu, tujuan yang akan ku capai sangat penting! aku siap menunggu tapi tak kali ini dan bukan untuk ini, pliss Tuhan!" aku merengek, sudah menjadi kebiasaanku merengek pada Tuhan saat tertindas.

Matahari diam-diam bersembunyi, senja menjelang. Sekarang aku duduk sendiri, mencoba tenang menikmati cahaya terakhir. Kata orang jam-jam segini bus masih ada, tapi mana?? Kalau pun ada kemungkinan aku bakal terlambat. Saat terlambat, tujuan sudah bukan tujuan lagi.

Kutengok ujung jalan, tak nampak satu pun kendaraan yang muncul. Mungkin benar ketakutanku, itu bus terakhir. Kalau sudah begini tak ada yg bisa membawaku pada tujuan. aku terdampar dalam halte. Matahari sudah menghilang, jalanan sepi. Tinggal hati yang riuh dengan rasa sesal, "kenapa kau tak ambil kesempatan itu saat bus melintas di depan hidungmu, kesempatan tak datang dua kali bodoh, dan bus itu adalah kesempatan,huuuh" aku mengadu pada diriku sendiri.

Hening, ditemani suara binatang malam. Jalanan sesekali memunculkan parodi orang2 pinggiran yang pulang memeras keringat, tapi tak ada satu bus pun yang melintas. aku berdiri kembali, tengok kiri dan kanan. "Sudahlah, Sepertinya aku takan sampai pada tujuan itu, bus itu mungkin sedang menertawaiku sekarang, sebagai pembalasan saat aku tak memilih menaikinya karena sibuk menertawai kejelekannya," lagi aku bergumam, berbicara pada halte yang dari tadi nyinyir meledekku.

Menunggu adalah pekerjaan yang sia-sia, apa lagi untuk sesuatu yang penting. Supaya tidak menunggu sebaiknya kita jangan berharap dan jangan mau diberi harapan. Seperti aku sekarang yang sudah sangat persetan bus anjing itu mau lewat atau tidak! Ternyata yang namanya menunggu dimanapun adalah salah, halte sialan ini pun tak memberi solusi! Aku capek, aku ingin bus itu kembali, bagaimanapun caranya walau dengan cara irasional sekalipun!

Mataku sudah sayu saat menangkap cahaya silau dari ujung jalan. Semakin lama semakin terang, empat buah lampu dengan suara bising yang khas, mendekat dan mendekat..kupaksakan mataku terus menatap memastikan kendaraan apa itu. sementaral tangan-tangan gaib dihatiku sigap menyusun kembali puzzle harapan yang tadi runtuh diterpa badai penyesalan.

Segalanya menjadi jelas saat kotak besi itu berhenti tepat d depan hidungku. Pintunya terbuka menurunkan beberapa penumpang yang tak aku kenal. aku masih terperangah, senang dan terkejut, tak percaya ia kembali. Ingin rasanya aku melompat dan berteriak, "Yeaah dia kembali!" Entah kenapa aku masih terpaku,seakan tak percaya.

Bus itu diam..penumpang-penumpang itu telah turun, dan pintu masih terbuka lebar, sangat lebar. Mataku tak berkedip, mulutku terbuka, aku duduk terpaku beberapa detik! Ya Tuhan, gantian bus itu menungguku! aku masih terdiam, sambil ku pandangi pintu yang lebar itu. Beberapa detik, pintu itu tetap terbuka lebar memberikan kesempatan padaku, untuk hap melompat dan masuk. Namun aku masih terperangah. lalu perlahan pintu itu mengecil..mengecil.. dan rapat. suara mesin mulai meraung-raung, lama-lama mulai meninggi! Dan breeeuuummm.....meninggalk
an jejak asap hitam pekat.

Sementara aku masih menunggu di halte.... sampai bus yang sama dengan yang kulewatkan sore tadi itu hilang menembus malam yang semakin hitam...aku tetap terpaku...

selamat tidur harapan...


Jatinangor, Maret 2010

Selasa, 05 Mei 2009

Suatu Hari di 5 Mei 2009

Selasa, 05 Mei 2009 0
Hari ini aku rasa cukup. Cukup melelahkan dan memuakan. Diawali dari terlambatnya aku masuk kelas, gara2 pembangunan jalan yang angot-angotan itu, hingga merasakan lelahnya rangkap jabatan dalam kepanitiaan sebuah talk show sederhana yang katanya bakal fenomenal (hehe..mengklaim).
Alkisah, 07.15 aku baru terbangun, untung om chow datang k kosan membangunkanku. sekaligus menyadarkan klo pagi itu aku harus sudah duduk manis di kelas sebelum jam 08.00 untuk persentasi kelompok, beruntung power poin semalam telah aku persiapkan sampai jam 03.00 subuh. Ditengah kasak kusuknya aku di tempat tidur om Chow berlalu, dy bilang mau Foto copy bahan. om Chow menghilang aku bergegas meraih handuk, "semangat meng...klo lo terlambat 1 detik saja masuk kelas jangan harap bisa diberi pintu, maklum Mr.Iyep pake jam beneran bukan jam karet."
Beberapa menit berlalu, dan harapan tetaplah harapan. Berharap dapat mejeng persentasi depan kelas, namun akhirnya aku telat masuk. Gerbang lama yg biasa kulintasi diperboden, ada penghancuran jalan d sana (males aku nyebut pembangunan), jd mau g mau aku harus muter ke gerbang utara, tapi anehnya lajur sebelah kanannya penuh sesak dijejali ojek2 yang ngantri, ah aturan macam apa ini?
Sial..!! Sampe kelas pukul 08.03 telat 3 menit, Mr.Iyep sudah jadi wasit, aku pun di kartu merah. Terlihat samar-samar nilai persentasi melambaikan tangannya seolah memberi salam perpisahan. Akhirnya 2 SKS kuhabiskan dengan curhat sama bu Cory tepat d depan pintu kelas..lamat-lamat terdengar suara diskusi d dalam, sakit hati ini, pak..pak..:)
Kisah siangnya, masih d 5 Mei 09, kujalani lebih banyak bersama mas Rio. Rencananya jam 2 siang kita mau buat Talk Show di pelataran mushola FISIP. Sebetulnya acara itu adalah acara POLAR, tp skuad POLAR yah tau sendiri orang2 sibuk semua:). Jujur kita sempet keteteran, tp gada alasan, bagaimana pun The show must go on, akhirnya aku dan Mas rio mempersiapkan berbagai instrumen dalam talk show itu, persiapan dibuat sedemikian rupa supaya g kalah sama 4 mata (lebay).
Ditengah keterbatasan, untung bung Gema menunjukan batang hidungnya. Beliau cukup banyak berkontribusi juga, terutama dalam urusan sound..gokil lah, maka tak salah setelah talk show ia diperebutkan antara POLAR dengan praktek lapangan Jogjanya dan Panitia praktikum dengan perizinannya, untung akhirnya aa Rizal legowo..nuhun ah..:)
Kembali k Talk Show..segalanya berjalan lancar alhamdulilah..tp rada mikir oge sih.."urang geus kolot masih ngurus nu kieu, UP yo UP..haha" ada adegan angkat2 kursi jg lg bolak balik dekanat, kontan saja mahasiswa angkatan2 bawah pada melirik, mungkin dalam hatinya berdendang "itu c akang udah kumisan n jenggotan masih aja jadi logistik," ah..persetan kata orang..mereka bukan kita...
Akhirnya setelah mengantar nyonya besar..sampe jg gw d kosan.,kondisi lapar gila. Untung td kusempatkan beli nasi bungkus d warteg baru depan alfa, lumayan cukup murah. Kedatanganku tidak disambut ramah oleh suasana di dalam kosan. Inkud A.301 udah kaya kapal Titanic di detik2 menjelang karam. Wayahna..beresin dulu, angkat2 dus bekas td siangn ku kuacak-acak waktu nyari spanduk . Tak lama berselang, saat aku membuka bungkusan nasi kakek Danis datang..dy curhat tentang ce dan aing pun tepar kekenyangan...


NB:tulisan ini hanya sekedar intermezo, maksud hati ingin berbagi dengan kawan2..maaf klo ada kesamaan tokoh dan tempat itu semata-mata hanya kebetulan saja..:)



 
RIZKI dialogue.. ◄Design by Pocket, BlogBulk Blogger Templates